Penelitian: Pecahan Bulan Bisa Menjadi Asteroid Dekat Bumi
ANTARIKSA -- Sebuah penelitian baru menunjukkan bongkahan bulan kemungkinan meledak ke luar angkasa dan menjadi asteroid dekat Bumi. Temuan itu menegaskan penelitian sebelumnya yang menunjukkan asteroid dekat Bumi, Kamo'oalewa merupakan bagian dari Bulan.
Kaitan Kamo'oalewa itu dengan sejarah Bulan sangat mengejutkan. Sebab sebelumnya, hanya asteroid jauh dari luar orbit Mars yang dianggap sebagai sumber asteroid dekat Bumi.
Penelitian baru, yang dipimpin oleh ilmuwan planet Universitas Arizona, Renu Malhotra, menawarkan mekanisme yang memungkinkan batuan bulan terhempas ke luar angkasa dan menjadi asteroid dekat Bumi. Penelitian ini juga menunjukkan, selain Kamo'oalewa, ada lebih banyak fragmen bulan yang mungkin ditemukan di antara asteroid Bumi.
“Kami sekarang menetapkan bahwa bulan kemungkinan besar merupakan sumber Kamo'oalewa,” kata Malhotra dalam pernyataan yang diterbitkan universitasnya pada Senin, 23 Oktober 2023.
Baca Juga: Ekonom Dunia Kini Mengincar Kekayaan dari Asteroid, Termasuk IMF
Temuan itu dapat membantu para ilmuwan lebih memahami populasi asteroid dekat Bumi. Pengetahuan ini bisa membantu melindungi planet kita dari serangan batu luar angkasa.
Dua sifat yang tidak biasa mengarahkan para peneliti mempelajari Kamo'oalewa. Pertama, dia adalah asteroid yang sangat dekat dengan Bumi. Meskipun mengorbit matahari, ia tampak mengorbit Bumi sehingga disebut satelit kuasi.
Kedua, asteroid itu memiliki umur panjang yang aneh. Para ilmuwan memperkirakan ia akan tetap dekat dengan planet kita selama jutaan tahun. Sebagai perbandingan, objek lain yang mengorbit dekat Bumi hanya bertahan selama beberapa dekade.
Pada tahun 2021, para ilmuwan menemukan bahwa sifat kimia Kamo'oalewa sangat mirip dengan kimia bulan. Hal itu berdasarkan hasil spektroskopi, yang mengukur panjang gelombang spesifik cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh unsur-unsur kimia.
Komposisi asteroid juga membuat para ilmuwan berpendapat bahwa Kamo'oalewa mungkin terlempar dari permukaan bulan. Malhotra mengatakan, mereka tertarik melihat spektrum Kamo’oalewa hanya karena dia berada pada orbit yang tidak biasa.
“Jika itu adalah asteroid dekat Bumi (dengan orbit biasa), tidak ada yang akan berpikir untuk menemukan spektrumnya, dan kita tidak akan tahu bahwa Kamo’oalewa mungkin merupakan pecahan bulan,” kata dia.
Namun, bisakah pecahan bulan lepas menuju orbit matahari?
Baca Juga: Apa Itu Asteroid?
Berdasarkan penelitian sebelumnya,
tampaknya tidak masuk akal jika sepotong bulan bisa terlempar hingga mencapai orbit satelit kuasi. Bulan tertutup kawah, yang merupakan sejarah tabrakan asteroid yang akan melemparkan material jauh di atas bulan.
Namun sebagian besar materi yang lepas itu jatuh kembali ke permukaan bulan. Di sisi lain, beberapa material yang diluncurkan dari bulan terlontar dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga mendarat di Bumi.
Sebaliknya, bongkahan bulan satelit kuasi akan membutuhkan lebih banyak energi kinetik untuk mencapai orbit matahari dan menjadi asteroid dekat Bumi. Malhotra dan timnya kemudian mulai menentukan apakah ada kemungkinan kejadian yang membuat Kamo'oalewa terlempar dari bulan dan mencapai posisi orbitnya saat ini.
Mereka menjalankan simulasi, yang memperhitungkan gaya gravitasi semua planet di tata surya. Mereka menemukan beberapa fragmen bulan tertentu bisa lepas dari gravitasi Bumi dan bulan dan menemukan jalan menuju orbit satelit kuasi mengelilingi matahari.
Artinya, Kamo'oalewa bisa jadi adalah salah satu dari sedikit fragmen bulan yang mampu melakukan hal tersebut. Namun, bagaimana itu terjadi, belum diketahui pasti.
Baca Juga: Asteroid Berbahaya Setinggi Menara Eiffel Meluncur Melewati Bumi
Tim itu akan mencoba menentukan kondisi tepat yang diperlukan untuk menempatkan Kamo'oalewa pada jalur orbitnya saat ini. Mereka juga akan berupaya menyimpulkan usia pasti dari satelit kuasi tersebut.
Walaupun masih banyak yang harus dibuktikan, penelitian tim Malhotra telah diterbitkan di jurnal Nature Communications Earth & Environment pada Senin, 23 Oktober 2023. Sumber: Live Science
