Rusia Serang Ukraina, ESA Dilema Soal Kerja Sama dengan Roscosmos

News  
Stasiun Luar Angkasa Internasional pada November 2021. Gambar: NASA
Stasiun Luar Angkasa Internasional pada November 2021. Gambar: NASA

ANTARIKSA — Badan Antariksa Eropa (ESA) masih terus bekerja pada Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dan program ExoMars setelah invasi Rusia ke Ukraina. Namun, mereka akan terus memantau situasi jika ada perubahan yang mendesak.

“Terlepas dari konflik saat ini, kerja sama ruang sipil tetap menjadi jembatan,” kata Direktur Jenderal ESA, Josef Aschbacher, Jumat, 25 Februari 2022.

ESA, kata dia, terus mengerjakan semua programnya, termasuk kampanye peluncuran ISS dan ExoMars untuk menghormati komitmen dengan Negara Anggota dan mitra lainnya. ExoMars 2022, yang melibatkan penjelajah Rosalind Franklin buatan Eropa dan pendarat buatan Roscosmos, dijadwalkan diluncurkan dengan roket Proton-M dari Baikonur pada September 2022.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

ESA terlibat dalam program ISS multi-dekade bersama dengan mitra Rusia, Amerika Serikat, dan lainnya. Di ISS saat ini, ESA memiliki astronot asal Jerman Matthias Maurer. Sementara kosmonot Rusia Pyotr Dubrov dan Anton Shkaplerov. Kemudian dari NASA ada Mark Vande Hei, Kayla Barron, Thomas Marshburn, dan Raja Chari.

Sementara itu, roket Soyuz dijadwalkan akan meluncurkan sepasang satelit baru Galileo GNSS untuk EU Agency for the Space Programme (EUSPA) dari Pusat Antariksa Guyana Eropa di Guyana Prancis. Peluncuran ditetapkan pada kuartal kedua 2022. Baca: AS dan Eropa Sebut Kerja Sama Antariksa dengan Rusia Masih Aman.

Namun, peristiwa di Ukraina kemungkinan akan berdampak serius pada kerja sama sipil Eropa dengan Rusia. “Perang Krimea dan Donbas dari 2014 telah memberikan tekanan politik yang parah pada Rusia sebagai mitra yang cocok di luar angkasa,” kata dosen hubungan internasional dan kebijakan luar angkasa di Universitas Leicester Inggris, Bleddyn Bowen kepada SpaceNews.

Ia memprediksi proyek kerja sama dengan Rusia di luar angkasa kemungkinan akan terputus. Kecuali jika negara-negara Eropa memutuskan tidak keberatan pada Rusia yang menyerang militer Ukraina, menggulingkan pemerintah, dan memasang rezim boneka.

“Rusia bukan mitra di gerbang Bulan dan itu tampak seperti penyakit yang dihindari oleh AS, Eropa, Jepang, dan Kanada,” kata dia.

China dan Rusia sedang merencanakan pengembangan Stasiun Penelitian Bulan Internasional untuk tahun 2030-an. Mereka menyoroti ESA dan negara-negara anggotanya sebagai mitra yang sangat berpotensi.

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson mengatakan sulit untuk melihat bagaimana kerja sama dengan Rusia dapat berlanjut seperti biasa. “Saya harus mengatakan bahwa sampai sekarang saya secara luas mendukung kolaborasi artistik dan ilmiah yang berkelanjutan. Tetapi dalam keadaan saat ini, sulit untuk melihat bagaimana hal itu dapat berlanjut seperti biasa,” kata dia.

Presiden AS Joe Biden mengumumkan serangkaian sanksi pada Kamis, 24 Februari sebagai tanggapan atas invasi Rusia. Biden mengatakan, sanksi itu juga akan menghantam industri antariksa Rusia. Baca: Biden: Sanksi akan Menciutkan Program Antariksa Rusia.

Sumber: SpaceNews

Baca juga:

- Ancam Balik Biden, Rusia: Mau ISS Jatuh di Amerika?

- Transisi NASA dari ISS ke Stasiun Komersial Membuat ESA Merana

- AS: Rusia Bisa Menyerang dari Luar Angkasa

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

- angkasa berdenyut dalam kehendak -

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image