Sagitarius A, Lubang Hitam Raksasa di Jantung Tata Surya

Sains  
Ilustrasi lubang hitam supermasif dengan massa jutaan hingga miliaran kali matahari. Lubang hitam supermasif adalah objek yang sangat padat yang terkubur di jantung galaksi (NASA).
Ilustrasi lubang hitam supermasif dengan massa jutaan hingga miliaran kali matahari. Lubang hitam supermasif adalah objek yang sangat padat yang terkubur di jantung galaksi (NASA).

ANTARIKSA — Sistem tata surya kita berada dalam galaksi Milky Way atau galaksi Bima Sakti. Sementara, para astronom menyatakan telah menemukan raksasa gelap, lubang hitam supermasif berukuran 4,3 juta kali lebih besar dari matahari, yang meliuk-liuk di pusat Bima Sakti. Tak usah panik, penemuan mendebarkan ini masih manjadi perdebatan sengit di kalangan ilmuwan.

Sagitarius A, nama raksasa hitam itu, ditemukan dengan mengukur kecepatan empat bintang jauh di sekitar si lubang hitam. Pergerakan bintang-bintang menunjukkan ada massa di pusat galaksi yang hampir didominasi materi Sagitarius A. Hanya menyisakan sedikit ruang untuk bintang, lubang hitam lainnya, debu dan gas antarbintang, atau materi gelap.

"Observatorium Gemini terus memberikan wawasan baru tentang sifat galaksi kita dan lubang hitam besar di pusatnya," kata Martin Still, anggota program Gemini di National Science Foundation (NSF) AS, seperti dilansir Phys.org, awal pekan ini. Menurut dia, pengembangan instrumen lebih lanjut selama dekade berikutnya akan menunjukan karakter asli alam semesta yang sudah dimulai oleh Gemini.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Empat bintang jauh mengorbit lubang hitam 4,3 juta kali lebih besar dari matahari. Gambar: Observatorium Gemini Internasional /NOIRLab /NSF/AURA
Empat bintang jauh mengorbit lubang hitam 4,3 juta kali lebih besar dari matahari. Gambar: Observatorium Gemini Internasional /NOIRLab /NSF/AURA

Tim melakukan penelitian di Gemini North di Hawaii, bagian dari Observatorium Gemini internasional, sebuah program NOIRLab yang didanai oleh NSF. Observasi melibatkan spektroskopi (mempelajari interaksi antara cahaya dan materi) dari Gemini Near Infrared Spectrograph yang mengukur kecepatan bintang. Kemudian, menggunakan instrumen SINFONI pada European Southern Observatory's Very Large Telescope Interferometer untuk memetakan pergerakan bintang-bintang. Menggunakan data dari pengamatan mereka, tim menyimpulkan bahwa Sagitarius A mengandung 99,9 persen massa di pusat galaksi.

Langkah selanjutnya, para astronom akan mempelajari apa yang masih tersembunyi di pusat Bima Sakti. Apa yang mengisi ruang kosong yang belum diklaim sebagai Sagitarius A. Hal itu akan terungkap ketika para astronom mengukur bintang yang lebih redup dan lebih jauh dengan presisi yang lebih besar.

Kontroversi

Sebelumnya, para peneliti telah meragukan keberadaan lubang hitam tersebut. Sebagian menyebut itu sebenarnya adalah massa materi gelap (kegelapan yang memenuhi alam semesta dan belum terpecahkan hingga saat ini). Dalam artikel berjul 'Bagaimana jika lubang hitam di pusat Bima Sakti sebenarnya adalah massa materi gelap?' pada Juni 2021, sebuah tim peneliti di International Center for Relativistic Astrophysics (ICRA) telah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa Sagitarius A bukanlah lubang hitam besar, melainkan massa materi gelap.

Dalam makalah mereka yang diterbitkan dalam jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society: Letters, tim tersebut menjelaskan bukti yang mereka temukan dan bagaimana bukti itu dipertahankan hingga pengujian. Untuk diketahui, keberadaan Sagitarius A memang tidak pernah diverifikasi secara langsung. Para ilmuwan selama ini hanya menyimpulkan dari pengamatan perilaku benda-benda di sekitarnya.

Dalam penelitian ICRA, tim menemukan jenis massa lain dapat menghasilkan reaksi yang sama pada benda lain. Bahkan jenis massa ini dapat membantu menjelaskan beberapa fenomena anomali yang terlihat di sekitar Sagitarius A.

Kembali pada tahun 2014, astrofisikawan dihadapkan dengan masalah yang tidak dapat mereka jelaskan, yaitu awan gas yang diberi nama G2 pindah ke posisi yang cukup dekat dengan Sagitarius A. Seharusnya, G2 akan hancur dan melebur dalam tarikan lubang hitam. Namun terjadi sebaliknya, awan gas melanjutkan perjalanannya, tanpa terganggu.

Para peneliti ICRA menjelaskan kemungkinan kenapa G2 mampu bertahan melewati Sagitarius A. Itu karena Sagitarius A bukanlah lubang hitam, namun massa materi gelap. Untuk sampai pada kesimpulan ini, mereka membuat simulasi Bima Sakti, di mana Sagitarius A digantikan dengan massa materi gelap, kemudian membiarkan G2 melewatinya.

Mereka menemukan Bima Sakti tetap pada posisi yang hampir sama jika ada lubang hitam di pusatnya. Bintang-bintang terdekat juga masih berperilaku sama. Artinya, tanpa ada Sagitarius A, atau dengan massa materi gelap saja, galaksi Bima Sakti tetap akan seperti itu. Fenomena yang terlihat selama ini tidak membuktikan adanya raksasa hitam.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

- angkasa berdenyut dalam kehendak -

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image