Ilmuwan Kecewa, Kembaran Bumi di Sistem Trappist-1 telah Kehilangan Atmosfernya
ANTARIKSA -- Para ilmuwan kini dikecewakan oleh fakta baru keadaan di planet yang paling mirip dengan Bumi kita, Trappist-1b. Teleskop Luar Angkasa James Webb baru saja mengukur suhu planet yang mengorbit bintang Trappist-1 tersebut, dan menemukan planet itu terlalu panas untuk manusia dan kemungkinan besar tidak memiliki atmosfer.
Lima tahun lalu, Teleskop Luar Angkasa Spitzer inframerah NASA membantu menemukan tujuh planet ekstrasurya berbatu yang mengorbit satu bintang, Trappist-1. Sejak saat itu, sistem Trappist-1 sudah menjadi tata Surya kedua bagi para astronom.
Banyak ilmuwan menaruh harap salah satu dari tujuh planet berbatu dalam orbit Trappist-1 setidaknya layak huni, jika belum dihuni oleh alien. Planet Trappist-1b adalah kandidat paling mirip dengan Bumi.
Kini, dalam penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Nature, tenaga inframerah baru teleskop James Webb menunjukkan planet harapan itu sudah kehilangan atmosfernya. Artinya, planet kembaran Bumi itu hampir pasti tidak dapat dihuni.
Baca Juga: TRAPPIST-1, Tata Surya Lain dengan 7 Planet Kembaran Bumi
Dalam penentuan itu, para astronom menggunakan kamera inframerah tengah James Webb yang disebut MIRI. Kamera yang khusus mencari emisi termal planet itu menemukan bahwa Trappist-1b sangat panas, sekitar 232 derajat Celsius, kira-kira sama dengan suhu oven, dan kemungkinan besar tidak memiliki atmosfer.
"Ini adalah deteksi pertama segala bentuk cahaya yang dipancarkan oleh sebuah planet ekstrasurya sekecil dan sedingin planet berbatu di tata surya kita ," kata pejabat NASA dalam sebuah pernyataan.
Penemuan awal tujuh exoplanet Trappist-1 pantas memicu kegembiraan besar dalam komunitas astronomi. Sebab, semua dunia itu berukuran sebesar Bumi dan terletak di zona layak huni bintangnya, yaitu wilayah yang jaraknya dengan bintangnya memungkinkan keberadaan air cair di permukaannya. "Sistem ini adalah laboratorium hebat dan target terbaik yang kita miliki untuk melihat atmosfer planet berbatu," kata rekan penulis penelitian, Elsa Ducrot, astronom dari Komisi Energi Alternatif dan Energi Atom Prancis (CEA), dalam sebuah pernyataan.
Meski begitu, planet di Trappist-1 berada di luar jangkauan kita saat ini, 378 triliun kilometer jauhnya. Mereka juga mengorbit bintang yang jauh lebih kecil dan lebih merah dari matahari kita, yang dikenal sebagai bintang katai M.
“Jumlah bintang-bintang ini sepuluh kali lebih banyak di Bima Sakti dibandingkan jumlah bintang seperti matahari, dan mereka dua kali lebih mungkin memiliki planet berbatu dibandingkan bintang seperti matahari,” kata Greene.
Baca Juga: Teleskop Webb Mengungkap Misteri Planet Paling Mirip Bumi, TRAPPIST-1b
Katai M yang melimpah jelas merupakan target bagi para astronom yang mencari planet layak huni. Namun ada satu hal yang menarik, bahwa Katai M jauh lebih aktif daripada Matahari kita, sering kali memancarkan dan memuntahkan sinar berenergi tinggi yang bisa merusak kehidupan di luar bumi atau atmosfer planet.
Pengamatan terhadap Trappist-1b sebelumnya tidak cukup sensitif untuk menentukan apakah ia memiliki atmosfer, atau apakah ia merupakan batuan tandus. Planet ini terkunci pasang surut terhadap bintangnya, yang berarti satu sisi selalu menghadap bintangnya dan sisi lainnya terjebak dalam malam abadi.
Simulasi menunjukkan, jika dunia itu memiliki atmosfer, suhu planet akan lebih rendah, karena udara akan mendistribusikan kembali panas ke kedua sisinya. Namun, James Webb melihat yang lain, dengan mencatat suhu yang jauh lebih panas. Itu menunjukkan tidak adanya atmosfer dan membuat planet itu keluar dari daftar dunia yang mungkin bisa dihuni umat manusia.
Meski harapan pada Trappist-1b musnah, kemampuan teleskop James Webb dalam mengukur planet itu menjadi harapan baru. Ia bisa melakukan lebih banyak pengukuran, menjelajahi atmosfer dan suhu di banyak dunia lainnya. “Ada satu target yang saya impikan, dan itu adalah target (pengukuran semacam) ini,” kata rekan penulis penelitian, Pierre-Olivier Lagage yang juga dari CEA.
"Ini adalah pertama kalinya kami dapat mendeteksi emisi dari planet berbatu dan beriklim sedang. Ini adalah langkah yang sangat penting dalam kisah penemuan exoplanet," kata dia. Sumber: Live Science
