Teleskop Webb Membeku, Menunggu Waktu untuk Memangsa

Teknologi  
Teleskop Luar Angkasa James Webb. Gambar: ESA
Teleskop Luar Angkasa James Webb. Gambar: ESA

ANTARIKSA -- Seperti hewan pemburu yang matang, James Webb menunggu dengan sabar dalam dingin yang membekukan. Sudah 40 hari ia menantang angin liar di ruang angkasa jauh, termasuk 10 hari terakhir di tempat buruannya, Lagrange Point 2 (L2), titik sentrifugal atmosfer matahari dan bumi.

Dibangun dengan dana Rp 150 triliun, James Webb Space Telescope (JWST) sudah mahfum apa yang harus ia lakukan. Hanya butuh menunggu 4-5 bulan lagi untuk persiapan, target bidikan sudah menunggu di depan mata. Begitu perintah Bumi muncul, maka penggalan cerita langit siap terkirim.

"James Webb dingin ... instrumennya mendingin," kata John Mather, ahli astrofisika peraih Nobel yang juga bekerja di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland, Kamis 3 Februari 2022. Namun, ia memastikan, Webb berada di jalur yang tepat untuk mengungkap alam semesta, segera.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Ternyata, Webb memang harus sangat dingin agar instrumen inframerahnya dapat menangkap seluk-beluk galaksi, planet ekstrasurya, dan objek lain yang akan disorotnya. Mather mengatakan, masing-masing foton atau partikel cahaya kini mulai masuk ke detektor Webb.

"Belum ada gambar untuk ditampilkan kepada Anda," katanya. "Tapi itu akan segera, saya harap."

Mather pun menceritakan tentang perjalanan epik yang akan dilakukan Webb si pemburu. Dalam waktu sekitar lima bulan lagi, Webb akan memulai program sains ambisius yang mencakup semua aspek astrofisika. Sebelum waktu itu, Webb harus melewati periode komisioning yang ketat terlebih dahulu. Komisioning adalah proses pengaturan cermin hingga mendapat fokus yang tepat.

Saat ini, aktivitas utama Webb adalah menyelaraskan 18 cermin heksagonalnya untuk menjadi satu cermin utama yang kuat. "Saat ini, mereka masih bekerja sebagai 18 teleskop terpisah, tetapi akan segera bertindak sebagai cermin tunggal untuk melihat alam semesta yang dalam," Mather menjelaskan.

Pertama, 18 cermin berlapis emas akan mengambil gambar masing-masing sebagai percobaan. Kemudian, perintah dikirim ke motor kecil yang akan menggerakkan mereka ke tempat yang tepat, menyatu seperti sarang lebah dengan satu fokus. Dengan begitu, mereka akan menghasilkan gambar yang super tajam dengan kamera inframerah-dekat.

"Kami juga harus memeriksa apakah tiga instrumen lainnya juga dalam fokus," kata Mather.

Menurut dia, salah satu instrumen Webb, mid-infrared belum dinyalakan. Posesnya akan segera dimulai sehingga akan siap sekitar tiga bulan kedepan. Sementara dua instrumen lainnya sudah siap dalam 20 hari ke depan.

"Kemudian kami siap untuk mulai mengumumkan (gambar) hasil pertama kami," kata Mather.

Mather mengatakan, gambar yang akan dihasilkan Webb, karena sebagian besar dalam inframerah, akan berbeda dari yang biasa didapat dengan Teleskop Luar Angkasa Hubble. Teleskop Hubble menggunakan gelombang inframerah yang berbeda, bersama dengan cahaya tampak. Sementara Webb akan bisa melihat ke dalam melalui awan debu. "Karena inframerah (Webb) akan mengelilingi butiran, bukan memantul," jelas Mather.

Dengan kata lain, Webb akan dapat mengintip jauh ke dalam awan debu tempat exoplanet (planet di luar tata surya) terbentuk. Ia akan melihat jantung galaksi yang dipenuhi debu. "Ini akan tetap menjadi gambar yang indah," katanya.

Webb juga akan mengalihkan perhatiannya ke objek tata surya seperti Mars atau bulan Jupiter bernama Europa. Nama terakhir akan menjadi target eksplorasi robotik pada 2030-an dan seterusnya.

Webb juga akan memberi perhatian pada sejumlah planet seukuran Bumi yang mengorbit bintang kecil. Dia akan mencari kemungkinan kehidupan di sekitar 10 exoplanet kembaran bumi tersebut.

Dalam mencari kehidupan di daerah yang jauh di alam semesta, Webb hanya akan memberikan beberapa petunjuk. Di antaranya, melihat keberadaan uap air di atmosfer planet kecil. "Kami tidak berharap untuk melihat oksigen dengan observatorium ini, itu terlalu sulit," katanya.

Webb diluncurkan dengan roket Ariane 5 pada 25 Desember 2021. Ia kemudian mencapai orbitnya pada 24 Januari 2022. Ia akan menetap di sana untuk mengintip jauh ke galaksi awal setelah Big Bang. Baca: Empat Tujuan Utama Teleskop Webb NASA

Sumber: Space.com

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

- angkasa berdenyut dalam kehendak -

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image