Terobosan Sains, Teleskop Dragonfly Mampu Mendeteksi Gas Galaksi

Sains  
Roberto Abraham dan Teleskop Dragonfly. Foto: Pieter van Dokkum via Unuversity of Toronto
Roberto Abraham dan Teleskop Dragonfly. Foto: Pieter van Dokkum via Unuversity of Toronto

ANTARIKSA -- Pieter van Dokkum dari Universitas Yale dan Roberto Abraham dari Universitas Toronto telah merancang sebuah teleskop terobosan sains di New Mexico selama 10 tahun terakhir. Dinamai Dragonfly Telephoto Array, ini adalah capung mesin mengamatan berbasis darat yang mampu mendeteksi cahaya bintang redup di bagian langit malam yang remang-remang.

Teleskop menggunakan sekelompok lensa telefoto untuk membuat satu gambar, seperti mata capung yang mengumpulkan data visual. Saat ini, teleskop itu telah melihat galaksi 'berbulu' yang sebelumnya tak pernah terlihat, galaksi kerdil difus, dan galaksi dengan sedikit atau tanpa materi gelap. Dilansir Phys.org, Kamis, 10 Maret 2022, saat ini Dragonfly sedang mengarahkan pandangannya pada gas ekstragalaksi.

Dengan bantuan filter khusus yang dipasang di depan setiap lensa, teleskop Dragonfly mampu memblokir sebagian besar cahaya yang dipancarkan oleh bintang sehingga hanya menyisakan cahaya redup dari gas terionisasi. Tim Dragonfly membangun versi pathfinder dari teleskop dengan memakai tiga lensa, bukan 48 lensa Dragonfly asli. Ini sebagai perangkat bukti konsep teleskop. "Hasilnya lebih baik dari yang diharapkan," kata para peneliti.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

"Akan ada beberapa gambar luar biasa dari Dragonfly dalam beberapa tahun ke depan. Metode baru untuk mendeteksi awan gas ini membuka tahap sains yang sama sekali baru untuk dijelajahi," kata van Dokkum yang merupakan Profesor Astronomi di Fakultas Seni dan Sains Yale.

Dalam dua studi baru, tim Dragonfly menjelaskan fitur tersembunyi sebelumnya di dalam gas yang mengelilingi sekelompok galaksi yang terletak sekitar 12 juta tahun cahaya dari Bumi. Para peneliti memilih area ini karena sebagiannya telah dipelajari oleh teleskop lain sehingga tingkat akurasi yang diambil Dragonfly dapat diukur.

"Kelompok galaksi Messier 81 adalah salah satu yang terdekat dengan galaksi kita, menjadikannya salah satu yang terbaik untuk dipelajari," kata mahasiswa pascasarjana Yale, Imad Pasha, penulis utama dari salah satu studi baru.

"Kami kembali ke banyak galaksi terdekat yang (sudah) terkenal dengan instrumen baru ini untuk menambahkan potongan teka-teki tentang bagaimana gas masuk dan keluar dari galaksi," katanya.

Meskipun telah lama diketahui bahwa gas adalah bahan bakar untuk menciptakan bintang dan planet di galaksi, namun bagaimana dinamika gas saat masuk dan keluar galaksi belum sepenuhnya dipahami dengan baik. Karena itu, kemampuan Dragonfly dalam mengisolasi gambar struktur gas di sekitar galaksi menjadi prioritas bagi para peneliti.

Sebagai contoh, studi yang dilakukan Pasha, yang diterbitkan dalam Astrophysical Journal Letters, menggambarkan galaksi kecil yang baru lahir terbentuk di bagian lengan galaksi Messier 82. Pada dasarnya, galaksi baru itu dibentuk oleh gas yang terlepas dari Messier 82 ketika melewati galaksi Messier 81 di dekatnya.

"Galaksi jenis ini sulit dideteksi dengan pengamatan tradisional. Kami mungkin akan menemukan lebih banyak 'bayi' galaksi ke depannya," kata Pasha.

Studi baru kedua, yang telah diterbitkan oleh Astrophysical Journal, menggambarkan awan raksasa gas terionisasi yang panjangnya 180.000 tahun cahaya dan lebarnya 30.000 tahun cahaya. Meskipun asal usul awan tetap menjadi misteri, para peneliti berteori awan itu mungkin terlepas dari Messier M82 selama pendekatannya dengan galaksi Messier 81 yang lebih besar, atau terhempas dari Messier 82 oleh 'angin super' yang kuat.

"Awan ini belum pernah terlihat sebelumnya," kata penulis utama studi kedua itu, Deborah Lokhorst. Alumni pascasarjana di University of Toronto itu mengatakan, gambar yang mereka dapat adalah yang pertama kali dengan sensitivitas yang pas dan bidang pandang yang cukup luas untuk mendeteksinya. "Kami hampir tidak percaya itu nyata!"

Sekarang, setelah Dragonfly telah terbukti berhasil, para peneliti sedang membangun instrumen Dragonfly Spectral Line Mapper yang lebih besar dengan 120 lensa. Teleskop itu sedang dirakit di New Mexico.

Rekan penulis dalam studi itu, Seery Chen mengatakan, proyek Dragonfly telah melakukan terobosan sains dengan menggunakan bahan yang tersedia, termasuk lensa telefoto yang tersedia secara komersial. Akhirnya, kata dia, tim berencana membuat semua desain instrumen dan datanya akan terbuka untuk semua peneliti lainnya.

"Itu membuat sains lebih mudah diakses oleh lebih banyak orang," katanya. Chen adalah mahasiswa pascasarjana Universitas Toronto yang bekerja pada pengembangan instrumentasi Dragonfly yang baru tersebut.

Sumber: Phys.org

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

- angkasa berdenyut dalam kehendak -

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image