Pasukan Antariksa AS Bangun Sistem Pelacakan Luar Angkasa

Politik  
Operator di Pusat Pertahanan Luar Angkasa Nasional di Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Schriever, Colorado, memantau objek luar angkasa untuk mengidentifikasi potensi ancaman. Foto: Angkatan Luar Angkasa AS
Operator di Pusat Pertahanan Luar Angkasa Nasional di Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Schriever, Colorado, memantau objek luar angkasa untuk mengidentifikasi potensi ancaman. Foto: Angkatan Luar Angkasa AS

ANTARIKSA — Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat (US Space Force) telah memperpanjang kontrak L3Harris Technologies untuk mengembangkan platform perangkat lunak yang akan digunakan militer AS tersebut. Dengan perangkat itu, pasukan khusus akan memantau setiap peluncuran ke luar angkasa, satelit, dan puing-puing di orbit Bumi.

Hal itu diumumkan oleh L3Harris Technologies pada Kamis, 3 Februari 2022. Pada tahun 2018, perusahaan itu memenangkan kontrak 53 juta dolar AS untuk mengembangkan Sistem Pelacakan dan Peluncuran Lanjutan yang dikenal sebagai ATLAS. Perangkat itu untuk menggantikan sistem sebelumnya, yaitu Pusat Operasi Pertahanan Luar Angkasa (SPADOC).

“L3Harris telah mengembangkan aplikasi dalam arsitektur baru yang akan memungkinkan ATLAS untuk menskalakan dan menangani peningkatan eksponensial konstelasi komersial, peningkatan puing, uji (senjata) anti-satelit, dan ancaman permusuhan,” kata perusahaan itu.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Kontrak baru itu bernilai 49,7 juta dolar AS selama dua tahun. Perpanjangan kontrak bertujuan untuk mengintegrasikan peralatan pemerintah dan mengawasi penyebaran ATLAS di pusat komando militer di Colorado dan California.

"Menerjunkan sistem ATLAS adalah kebutuhan mendesak," kata pejabat Angkatan Luar Angkasa AS.

Angkatan Udara AS selama bertahun-tahun tidak berhasil mengganti SPADOC. Mereka kemudian meluncurkan Sistem Misi Pusat Operasi Luar Angkasa (JMS) pada tahun 2009, tetapi program tersebut berkinerja buruk dan dihentikan pada tahun 2018. Bulan lalu, Komando Sistem Luar Angkasa mengumumkan akan mematikan komponen JMS yang tersisa.

SPADOC diperkenalkan pada 1990-an untuk memantau peluncuran dan objek lain di orbit Bumi, serta mendukung keselamatan operasi penerbangan AS. Sementara ATLAS adalah bagian dari program Space Force, angkatan militer AS yang baru dibentuk tahun lalu.

ATLAS memiliki cakupan yang lebih besar yang dikenal sebagai Space C2 (perintah dan kontrol) yang dimulai setelah pembatalan JMS. “Modernisasi kemampuan kesadaran domain ruang angkasa melalui ATLAS akan memungkinkan penonaktifan sistem SPADOC,” kata Komando Sistem Luar Angkasa Space Force.

Dibandingkan dengan SPADOC, sistem baru ATLAS diklaim akan jauh lebih otomatis dan diharapkan memudahkan operator Space Force menyerap data dari sensor seperti Space Fence (sistem pengawasan antariksa generasi kedua untuk melacak satelit buatan dan sampah antariksa). Kemampuan lain dari ATLAS adalah pemrosesan otomatis dan pemeliharaan katalog luar angkasa militer dari semua objek yang diketahui.

Sumber: SpaceNews

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

- angkasa berdenyut dalam kehendak -

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image