Tak Kalah dengan Bumi, Sejumlah Lokasi Wisata di Mars Bisa Membuatmu Melayang

Gaya Hidup  
Salah satu permukaan Mars.
Salah satu permukaan Mars.

ANTARIKSA -- Tidak ada bentangan pesona Air Terjun Niagara di Mars. Apalagi magis yang terpancar dari dinding-dinding Taj Mahal dan Burj Khalifa. Lupakan dulu menara Eiffel dan Machu Picchu. Dataran Mars yang merah memiliki hal lain untuk Anda, yang lebih mistik dan memikat, sekaligus misterius.

Mars adalah planet yang sangat kontras, gunung berapi besar, ngarai yang dalam, dan kawah yang tampak tidak menampung air yang mengalir. Ini akan menjadi lokasi jelajah yang luar biasa bagi wisatawan di masa depan. Itu semakin mungkin dengan rencana badan antariksa sejumlah negara, terutama NASA, untuk mengirim koloni manusia di Planet Merah. Langkah pertama paling cepat tahun 2030.

Jika itu terwujud, maka siapapun dalam koloni itu akan kembali menjadi 'bayi mungil'. Serba ingin tahu, melihat, meraba segala sesuatu di dunia yang baru. Nah, ini adalah sejumlah destinasi yang bisa dikunjungi penduduk Mars di masa depan.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Olympus Mons

Tim Sains NASA/MOLA.
Tim Sains NASA/MOLA.

Olympus Mons adalah gunung berapi paling ekstrim di tata surya. Terletak di wilayah vulkanik Tharsis, menurut NASA, ukurannya hampir sama dengan negara bagian Arizona. Memiliki tinggi 25 kilometer membuatnya hampir tiga kali tinggi Gunung Everest di Bumi, yang tingginya sekitar 8,9 km.

Olympus Mons adalah gunung berapi perisai raksasa, yang terbentuk dari lava yang perlahan merayap menuruni lerengnya. Artinya, gunung ini mungkin mudah didaki oleh penjelajah karena kemiringannya rata-rata hanya 5 persen. Di puncaknya terdapat depresi spektakuler dengan lebar sekitar 85 km, dibentuk oleh ruang magma yang kehilangan lava dan runtuh.

Gunung Berapi Tharsis

NASA/JPL
NASA/JPL

Saat Anda mendaki di sekitar Olympus Mons, ada baiknya mampir untuk melihat beberapa gunung berapi lain di wilayah Tharsis. Menurut NASA, Tharsis menampung 12 gunung berapi raksasa di zona yang lebarnya kira-kira 4.000 km. Seperti Olympus Mons, gunung berapi ini cenderung jauh lebih besar daripada yang ada di Bumi. Mungkin karena Mars memiliki tarikan gravitasi yang lebih lemah yang memungkinkan gunung berapi tumbuh lebih tinggi. Gunung berapi ini mungkin telah meletus selama dua miliar tahun, atau setengah dari sejarah Mars.

Gambar di sini menunjukkan wilayah Tharsis timur, seperti yang dicitrakan oleh Viking 1 pada tahun 1980. Di sebelah kiri, dari atas ke bawah, Anda dapat melihat tiga gunung berapi perisai yang tingginya kira-kira 25 km: Ascraeus Mons, Pavonis Mons, dan Arsia Mon. Di kanan atas adalah gunung berapi perisai lain yang disebut Tharsis Tholus.

Valles Marineris

NASA
NASA

Mars tidak hanya menampung gunung berapi terbesar di tata surya, tetapi juga ngarai terbesar. Menurut NASA, Valles Marineris memiliki panjang sekitar 3000 km. Itu sekitar empat kali lebih panjang dari Grand Canyon, yang memiliki panjang sekitar 800 km.

Para peneliti tidak yakin bagaimana Valles Marineris terbentuk, tetapi ada beberapa teori tentang pembentukannya. Banyak ilmuwan menyarankan, ketika wilayah Tharsis terbentuk, itu berkontribusi pada pertumbuhan Valles Marineris. Lava yang bergerak melalui wilayah vulkanik mendorong kerak ke atas, yang memecah kerak menjadi rekahan di daerah lain. Seiring waktu, patahan ini tumbuh menjadi Valles Marineris.

Kutub Utara dan Selatan

NASA/JPL
NASA/JPL

Mars memiliki dua wilayah es di kutubnya, dengan komposisi yang sedikit berbeda; kutub utara dipelajari dari dekat oleh pendarat Phoenix pada 2008. Sementara pengamatan kutub selatan berasal dari pengorbit. Selama musim dingin, menurut NASA, suhu di dekat kutub utara dan selatan sangat dingin sehingga karbon dioksida mengembun dari atmosfer menjadi es, di permukaan.

Prosesnya terbalik di musim panas, ketika karbon dioksida menyublim kembali ke atmosfer. Karbon dioksida benar-benar menghilang di belahan bumi utara, meninggalkan lapisan air es. Tetapi beberapa es karbon dioksida tetap berada di atmosfer selatan. Semua pergerakan es ini memiliki efek besar pada iklim Mars, menghasilkan angin dan efek lainnya.

Kawah Gale dan Gunung Sharp

NASA/JPL
NASA/JPL

Keduanya menjadi terkenal karena menjadi lokasi pendaratan robot penjelajah NASA, Curiosity pada tahun 2012. Kawah Gale adalah wilayah dengan banyak bukti jejak keberadaan air. Curiosity menemukan dasar sungai dalam beberapa pekan setelah mendarat, dan menemukan bukti air yang lebih luas sepanjang perjalanannya di permukaan kawah. Pada 2018, Curiosity mencapai puncak gunung berapi terdekat yang disebut Gunung Sharp (Aeolis Mons) dan melihat fitur geologis di setiap stratanya.

Salah satu temuan Curiosity yang lebih menarik adalah molekul organik kompleks di wilayah tersebut. Saat ini, molekul organik itu diidentifikasi sebagai jejak kehidupan kuno. Namun, para ilmuwan masih membutuhkan data tambahan.

Rover juga menemukan konsentrasi metana di atmosfer yang berubah selama musim. Metana adalah elemen yang dapat diproduksi oleh mikroba serta fenomena geologis sehingga masih tidak jelas apakah itu tanda kehidupan.

Medusae Fossae

ESA
ESA

Medusae Fossae adalah salah satu lokasi paling aneh di Mars, dengan beberapa orang bahkan berspekulasi bahwa itu adalah bukti semacam kecelakaan UFO. Penjelasan yang lebih mungkin adalah deposit vulkanik yang sangat besar, sekitar seperlima dari ukuran Amerika Serikat. Seiring waktu, angin membentuk bebatuan menjadi beberapa formasi yang indah.

Tetapi para peneliti akan membutuhkan lebih banyak penelitian untuk mempelajari bagaimana gunung berapi ini membentuk Medusae Fossae. Sebuah studi 2018 menunjukkan formasi itu mungkin terbentuk dari letusan gunung berapi yang sangat besar yang terjadi ratusan kali selama 500 juta tahun. Letusan ini akan menghangatkan iklim Planet Merah karena gas rumah kaca dari gunung berapi melayang ke atmosf.

Garis Lereng Berulang di Kawah Gale

NASA/JPL
NASA/JPL

Mars memiliki fitur aneh yang disebut Recurring Slope Lineae (RSL) atau garis lereng berulang, yang cenderung terbentuk di sisi kawah curam selama cuaca hangat. Sulit untuk mengetahui apa RSL ini. Gambar dari Kawah Hale menunjukkan titik-titik di mana spektroskopi mengambil tanda-tanda hidrasi. Pada tahun 2015, NASA awalnya mengumumkan bahwa garam terhidrasi harus menjadi tanda air mengalir di permukaan, tetapi penelitian kemudian mengatakan RSL dapat terbentuk dari air atmosfer atau aliran pasir kering.

Pada kenyataannya, kita mungkin harus mendekati RSL untuk melihat seperti apa sifat aslinya. Tapi jika RSL memang menampung mikroba asing, maka akan berbahaya jika terlalu dekat karena bisa terjadi kontaminasi. Penduduk Mars di masa depan mungkin harus mengagumi fitur misterius ini dari jauh, menggunakan teropong.

Bukit Pasir di Noctis Labyrinthus dan lembah Hellas

NASA/JPL
NASA/JPL

Mars adalah planet yang sebagian besar dibentuk oleh angin karena airnya menguap saat atmosfernya menipis. Tetapi kita dapat melihat bukti ekstensif dari air masa lalu, seperti daerah "bukit pasir" yang ditemukan di Noctis Labyrinthus dan cekungan Hellas. Para peneliti mengatakan, daerah ini dulunya memiliki bukit pasir setinggi puluhan meter. Belakangan, pasir dibanjiri oleh lava atau air sehingga hanya dasarnya yang tersisa.

Bukit pasir tua seperti ini menunjukkan bagaimana angin dulu mengalir di Mars kuno, yang pada gilirannya memberikan beberapa petunjuk kepada ahli iklim tentang lingkungan kuno Planet Merah. Yang lebih menarik, mungkin ada mikroba yang bersembunyi di area terlindung dari bukit pasir ini, agar aman dari radiasi dan angin yang akan menyapu mereka.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

- angkasa berdenyut dalam kehendak -

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image