Cara NASA Menghindari Kiamat dari Asteroid

Sains  
Ilustrasi satelit penjaga Bumi dari ancaman asteroid. 
Ilustrasi satelit penjaga Bumi dari ancaman asteroid.

ANTARIKSA -- Seperti yang ditunjukkan oleh kepunahan massal dinosaurus non-unggas 66 juta tahun lalu, dibutuhkan asteroid yang jauh lebih kecil untuk benar-benar mengacaukan kehidupan di Bumi, walaupun planet ini tetap ada. Karena itu, Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, menganggap batuan luar angkasa apa pun adalah potensi bahaya jika berdiameter minimal 460 kaki atau 140 meter dan mengorbit dalam jarak 7,4 juta km dari Bumi.

Menurut NASA, dampak dari batu semacam itu dapat melenyapkan satu kota dan menghancurkan tanah di sekitarnya. Tabrakan dengan batu yang lebih besar, memiliki lebar setidaknya 1 km kemungkinan akan memicu akhir dari peradaban manusia dengan melepaskan bencana iklim global. Gerrit L Verschuur, astrofisikawan di Rhodes College di Memphis, Tennessee, mengatakan, jika penabrak seukuran asteroid pembunuh dino terjadi hari ini, maka akan membuat manusia dan spesies lain yang tak terhitung jumlahnya punah.

"Secara garis besar, dampak awal menciptakan bola api besar yang membunuh siapa saja yang melihatnya," kata Verschuur.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

"Kemudian debu dari benturan dan asap dari api mengikat Bumi, menjerumuskan planet kita ke dalam apa yang disebut dampak musim dingin."

Selama musim yang mengerikan tersebut, begitu banyak debu dan gas berbahaya yang menutupi langit sehingga tumbuhan tidak dapat lagi mengubah sinar matahari menjadi energi melalui fotosintesis. Kehidupan tumbuhan akan musnah di seluruh dunia, dan hewan akan segera mengikutinya. Hanya hewan yang sangat kecil dan hidup di darat yang memiliki kesempatan untuk bertahan hidup.

Karena itu, NASA dan badan antariksa dari berbagai negara lainnya menanggapi ancaman asteroid dengan sangat serius. Mereka memantau dengan cermat ribuan penabrak potensial di tata surya kita. Kabar baiknya adalah, tidak ada ancaman asteroid yang berpotensi berbahaya setidaknya untuk 100 tahun ke depan.

Jika batuan luar angkasa yang berpotensi berbahaya tiba-tiba mengubah arah dan menempatkan planet kita sebagai sasarannya, maka semua harus bersiap. NASA masih menguji rencana untuk menghadapinya. Pada 26 September 2022, badan antariksa tersebut meluncurkan sebuah roket tanpa awak ke asteroid selebar 160 m yang disebut Dimorphos. Penabrakan dengan roket itu dengan harapan dapat sedikit mengubah lintasan batuan antariksa.

Untungnya, Dimorphos memang tidak menuju Bumi. Tetapi melalui misi yang dikenal sebagai Tes Pengalihan Asteroid Ganda (DART), NASA berharap menguji kelayakan senjata,

apakah menabrakkan pesawat ruang angkasa ke asteroid akan efektif untuk mempertahankan planet ini. Setidaknya, layak untuk menghadapi asteroid nakal di masa depan. Sumber: LiveScience

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

- angkasa berdenyut dalam kehendak -

Apa Itu Galaksi?

Apa Itu Bintang, Planet, Asteroid, dan Komet?

Apa Itu Lubang Hitam?

Kenapa Alam Semesta Gelap?

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image