China Kini Terlibat Perburuan Kembaran Bumi, Metodenya Berbeda dengan NASA

Sains  
Planet-planet dalam sistem bintang Trapist 1 yang berpotensi menyimpan kehidupan. Gambar: NASA
Planet-planet dalam sistem bintang Trapist 1 yang berpotensi menyimpan kehidupan. Gambar: NASA

ANTARIKSA -- Misi pencarian dunia lain kini tidak lagi didominasi oleh Barat dan Eropa. China sebagai pemain baru yang menanjak hebat dalam misi luar angkasanya kini mengarahkan teknologinya pada 'bumi asing' yang mungkin bertebaran di luar sana.

Sebuah misi yang diusulkan China akan mencari dunia asing terdekat yang berpotensi layak huni. Mereka akan meluncurkan sebuah pesawat antariksa untuk melakukan pengukuran ultra-presisi tentang bagaimana planet yang mengorbit membuat bintangnya bergoyang.

Untuk misi yang disebut Closeby Habitable Exoplanet Survey (CHES), para ilmuwan akan menggunakan metode yang disebut astrometri relatif mikro-arcsecond. Teknik ini melibatkan pengukuran posisi dan pergerakan bintang yang sangat presisi dibandingkan dengan referensi latar belakang bintang untuk mendeteksi gangguan oleh gravitasi planet ekstrasurya saat mengorbit bintangnya.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Metode ini akan memberikan perkiraan massa planet ekstrasurya (di luar tata surya) dan jarak di mana mereka mengorbit bintangnya. Hal ini pada gilirannya dapat mengungkapkan apakah planet ekstrasurya ini memiliki potensi menampung kehidupan atau tidak.

Teleskop ruang angkasa Gaia Badan Antariksa Eropa (ESA) menggunakan metode yang sama untuk membuat peta 3D dari satu miliar bintang di Bima Sakti. Misi pencarian planet lainnya, seperti Transiting Exoplanet Survey Satellite milik NASA, menggunakan teknik berbeda, yang disebut metode transit, yang mencari penurunan luminositas bintang saat planet melintasinya. Metode ini mengharuskan planet mengorbit di tepi posisi pengamat.

CHES akan jauh lebih fokus dari misi Gaia ESA, menargetkan 100 bintang mirip matahari dalam jarak 10 parsec,atau 33 tahun cahaya dari Bumi. Ia dimungkinkan mampu mendeteksi planet yang berpotensi mirip Bumi di zona layak huni di sekitar bintang-bintang tersebut.

Saat mensurvei pilihan bintang yang relatif sempit, CHES akan dapat mempelajari sistem eksoplanet tersebut secara komprehensif. "Perburuan dunia layak huni pada bintang mirip matahari di dekatnya akan menjadi terobosan besar bagi umat manusia, dan juga akan membantu manusia mengunjungi kembaran Bumi itu dan memperluas ruang hidup kita di masa depan," kata profesor peneliti dari the Purple Mountain Observatory di Akademi Ilmu Pengetahuan China (CAS) dan penyelidik utama misi CHES, Ji Jianghui kepada Space.com, Kamis, 2 Juni 2022.

“Sampai hari ini, lebih dari 5.000 exoplanet telah ditemukan dan dikonfirmasi, termasuk sekitar 50 planet mirip Bumi di zona layak huni, tetapi kebanyakan dari mereka berjarak ratusan tahun cahaya dari Bumi.”

CHES akan melakukan pekerjaannya dari titik Lagrange Point 2 antara matahari-Bumi, sekitar 1,5 juta kilometer dari Bumi. Titik ini juga adalah tempat misi Gaia, Spektr-RG, dan Teleskop Luar Angkasa James Webb NASA saat ini beroperasi.

"CHES akan menjadi tambahan yang luar biasa untuk eksplorasi planet ekstrasurya," kata seorang profesor di Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang, Elizabeth Tasker.

"Sementara jumlah target potensial kecil, pengukuran massa planet yang mengorbit bintang tipe K-, G- dan F tetangga kita, akan menjadi tambahan yang berharga untuk data kita saat ini dan langkah menuju mengidentifikasi dunia yang layak huni, kata Tasker.

Tasker mengatakan, meskipun CHES tidak dapat menyelidiki permukaan planet-planet ini untuk melihat apakah mereka memiliki lingkungan seperti Bumi, pengukuran massa bisa memberikan indikator penting tentang planet mana yang bisa, atau pasti tidak, mirip Bumi. Planet bermassa lebih tinggi akan menarik atmosfer yang lebih tebal daripada Bumi, berpotensi mengandung gas seperti hidrogen dan helium, yang sangat baik dalam memerangkap panas.

Potensi kelayakhunian planet terestrial dari penemuan CHES dapat diselidiki lebih lanjut oleh tim lain. Untuk sebuah planet yang dapat diamati melintasi bintangnya, spektrum cahaya yang melewati atmosfer sebuah planet ekstrasurya dapat dianalisis untuk mengungkapkan informasi tentang komposisinya.

Misi tersebut tampaknya bersaing dengan proposal planet ekstrasurya lain dari Shanghai Astronomical Observatory, juga di bawah CAS. Misi yang disebut Earth 2.0 ini akan menggunakan metode transit untuk memantau 1,2 juta bintang kerdil dalam upaya mendeteksi exoplanet dan mempersempit pencarian kembaran Bumi. Misi Earth 2.0 juga akan beroperasi di Lagrange Point 2.

Kedua proposal China tersebut merupakan bagian dari putaran ketiga Program Penelitian Prioritas Strategis di bawah CAS. Kedua proposal ini, bersama dengan proposal misi di bidang lain, termasuk fisika energi ekstrem, ilmu planet, heliofisika, dan pengamatan Bumi diharapkan akan segera ditinjau.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

- angkasa berdenyut dalam kehendak -

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image