Misi Eropa ke Mars Berantakan karena Sanksi Rusia

Politik  
ESA akan melakukan studi industri jalur cepat untuk melihat opsi peluncuran penjelajah ExoMars setelah rencana meluncurkannya pada roket Proton Rusia batal. Kredit: ESA
ESA akan melakukan studi industri jalur cepat untuk melihat opsi peluncuran penjelajah ExoMars setelah rencana meluncurkannya pada roket Proton Rusia batal. Kredit: ESA

ANTARIKSA — Badan Antariksa Eropa (ESA) secara resmi telah menghentikan rencana untuk meluncurkan misi ExoMars pada September 2022. Misi kolaborasi ESA dan Roscosmos ke Planet Mars itu menjadi tidak mungkin setelah Eropa melancarkan sanksi ekonomi terhadap Rusia sebagai tanggapan serangan ke Ukraina.

Dewan ESA pada pertemuan Kamis, 17 Maret dengan suara bulat memilih menangguhkan kerja sama dengan Rusia dalam misi ExoMars. Mereka beralasan mustahil misi itu bisa terlaksana dengan kondisi saat ini, baik secara praktis maupun politis. “Keputusan dibuat karena peluncuran ini tidak dapat terjadi mengingat keadaan saat ini,” kata Direktur Jenderal ESA, Josef Aschbacher.

Dewan ESA juga membahas keputusan Rusia pada 26 Februari yang menghentikan peluncuran Soyuz dari Guyana Prancis dan menarik personelnya di sana sebagai tanggapan atas sanksi Eropa. Keputusan itu meruntuhkan lima misi Eropa. Yaitu dua peluncuran satelit navigasi Galileo, observatorium ruang angkasa Euclid ESA dan satelit ilmu Bumi EarthCARE, serta satelit pengintai Prancis.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

ESA pada 28 Februari kemudian mengeluarkan pernyataan pesimis pada misi ExoMars yang akan diluncurkan dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan. Apalagi, setelah Roscosmos terprovokasi oleh sanksi Barat dan Eropa tersebut.

“(Pembatalan) Ini mengecewakan bagi orang-orang yang terlibat dalam proyek tersebut,” kata Kepala Eksplorasi Manusia dan Robot ESA, David Parker, mengingat tahun-tahun yang telah mereka masukkan ke dalam misi. “Itu adalah keputusan yang menyakitkan yang harus dibuat dewan.”

Rencana baru untuk ExoMars membutukan waktu dan biaya. Selain harus mencari pengganti roket Proton, mereka juga harus mengganti platform pendaratan yang disebut Kazachok yang dibangun oleh Rusia. Robot penjelajah juga termasuk instrumen Rusia. Begitu juga unit pemanas radioisotop yang dipasok Rusia.

Dewan menginstruksikan Aschbacher memulai studi industri jalur cepat untuk melihat alternatif lain peluncuran misi. Mereka akan mengkaji kemungkinan penggunaan penjelajah Rosalind Franklin buatan Eropa untuk misi Mars. "Apa yang benar-benar perlu kita lakukan adalah melihat opsi-opsi ini. Pilihannya dalam hal Eropa sendiri atau Eropa dengan mitra lain,” kata dewan.

Menurut Aschbacher, salah satu opsinya adalah memperbaharui kerja sama dengan NASA. ESA awalnya berencana bekerja sama dengan NASA dalam program ExoMars, tetapi beralih ke Roscosmos Rusia satu dekade lalu karena NASA menarik diri dari program tersebut.

"Kerja sama dengan NASA adalah opsi yang akan kami pertimbangkan. NASA telah menyatakan kesediaannya untuk mendukung kami,” kata dia.

ESA juga masih berharap pada Rusia. Parker mengatakan, jika hubungan dengan Roscosmos dipulihkan, maka peluncuran pada 2024 layak dilakukan. “Konfigurasi ulang yang lebih radikal akan mengarah pada peluncuran pada 2026, ketika ada dua peluang peluncuran, atau 2028.”

Aschbacher mengaku sangat bersimpati kepada orang-orang yang telah mengerjakan proyek ExoMars selama beberapa dekade. “Saya dapat memahami rasa frustrasi orang-orang di bidang teknik, sains, komunitas. Tapi izinkan saya mengatakan, bahkan jika kami meluncurkannya nanti. Ilmu yang akan dihasilkan oleh rover ini masih luar biasa dan terbaik di dunia,” kata dia.

Sumber: Space News

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

- angkasa berdenyut dalam kehendak -

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image