Bahrain Bergabung dengan Perjanjian Artemis NASA

News  
Satelit pertama Bahrain, sebuah cubesat yang disebut Light-1 dikerahkan dari ISS pada Februari 2022. Satelit itu dikembangkan dengan bekerja sama dengan UEA. Gambar: NASA
Satelit pertama Bahrain, sebuah cubesat yang disebut Light-1 dikerahkan dari ISS pada Februari 2022. Satelit itu dikembangkan dengan bekerja sama dengan UEA. Gambar: NASA

ANTARIKSA — Bahrain menjadi negara terbaru yang bergabung dengan Artemis Accords, sebuah perjanjian internasional antara pemerintah yang berpartisipasi dalam Program Artemis NASA. Ini adalah upaya yang dipimpin Amerika untuk mengembalikan manusia ke Bulan pada tahun 2025, dengan tujuan akhir untuk memperluas eksplorasi ruang angkasa.

Kepala Badan Sains Antariksa Nasional Bahrain, Mohamed Al Aseeri menandatangani Kesepakatan pada 2 Maret 2022 selama Dialog Strategis AS-Bahrain. Penandatanganan itu tidak diumumkan secara resmi oleh NASA dan Departemen Luar Negeri AS hingga pada 7 Maret 2022.

"Saya sangat senang melihat Bahrain telah menunjukkan komitmennya untuk eksplorasi ruang angkasa secara damai dengan menandatangani Kesepakatan Artemis," kata Administrator NASA, Bill Nelson. Negara Timur Tengah itu adalah negara ke-17 yang bergabung, hanya beberapa hari setelah Rumania.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Bahrain adalah pendatang baru di luar angkasa, setelah mendirikan badan antariksanya pada tahun 2014. Badan itu berfokus terutama pada aplikasi luar angkasa, daripada eksplorasi. Negara itu meluncurkan satelit pertamanya, sebuah cubesat yang dikembangkan bersama Uni Emirat Arab yang disebut Light-1.

Satelit itu meluncur pada misi kargo Dragon SpaceX ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada Desember 2021. Tiga satelit Light-1 yang telah dikerahkan pada awal Februari itu dirancang untuk mempelajari kilatan sinar gamma yang dihasilkan di atmosfer.

Bahrain belum mengumumkan apa rencana mereka terkait partisipasinya dalam kegiatan eksplorasi bulan Artemis. Namun, salah satu tujuan badan tersebut yang tercantum di situs webnya adalah mendorong Kerajaan menjadi bagian dalam konvensi dan kesepakatan internasional ilmu antariksa dan konsep teknologi terkait.

Mantan administrator asosiasi untuk kebijakan dan kemitraan luar angkasa di NASA, Mike Gold menyambut baik penambahan Bahrain ke dalam perjanjian tersebut. “Bahrain adalah contoh yang sangat baik bagaimana kesepakatan memperluas manfaat Artemis ke mitra internasional yang baru dan beragam,” kata dia.

Sumber: Space News

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

- angkasa berdenyut dalam kehendak -

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image