Cincin Cantik Saturnus, Tak Seindah Mata Memandang

Teknologi  
Planet Saturnus dan cincinnya yang indah. Foto: NASA
Planet Saturnus dan cincinnya yang indah. Foto: NASA

ANTARIKSA -- Ketika Galileo Galilei pertama kali melihat cincin Saturnus pada tahun 1610, dia tidak yakin benda apa itu. Melihat melalui teleskopnya, Galileo menggambarkannya sebagai sepasang telinga, karena mereka tampak muncul di dua sisi berlawanan dari planet itu.

Sekitar 45 tahun kemudian, seorang astronom Belanda bernama Christiaan Huygens dengan tepat menyimpulkan bahwa itu adalah cincin dalam bentuk cakram yang mengelilingi Saturnus. Menurut NASA, Huygens mampu mengamati detail yang lebih halus daripada Galileo karena memiliki teleskop yang lebih kuat.

Bagaimana pun, gambar jarak jauh membuat cincin Saturnus tampak seperti satu pita batu padat yang mengeliling planet. Namun penerbangan lintas jarak dekat dan penelitian telah memberikan gambaran lebih rinci dari sistem cincin. Begitu juga dengan bidikan yang tepat dari beberapa objek unik yang mengorbit Saturnus.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Ilustrasi materi yang membentuk cincin Saturnus. Sumber: NASA
Ilustrasi materi yang membentuk cincin Saturnus. Sumber: NASA

Menurut NASA, cincin Saturnus adalah susunan fragmen berbatu dan es. Itu diyakini sebagai serpihan bulan, asteroid, dan komet. Teorinya adalah, batu-batu raksasa ini hancur berkeping-keping di bawah gaya gravitasi Saturnus. Hasilnya, kombinasi batu besar seukuran gunung dan partikel debu yang sangat kecil. Banyak objek yang lebih besar di cincin planet ini dilapisi debu.

Dilansir Live Science, Ahad, 16 Januari 2022, Sebelum tahun 1979, para ilmuwan mengira Saturnus adalah satu-satunya planet di tata surya yang memiliki cincin. Saat ini kita tahu bahwa semua planet menarik benda-benda luar angkasa ke dalam cincinnya masing-masing. Hanya saja, cincin Saturnus adalah yang paling terang dan berdekatan.

Cincin terang Saturnus membawa fragmen ruang yang lebih mencolok dari planet itu sendiri. Menurut laporan BBC tahun 2019 , data dari misi Cassini AS dan Eropa mengungkapkan, cincin itu diperkirakan berumur di antara 10 juta hingga 100 juta tahun.

Lapisan Ring (cincin) Saturnus.
Lapisan Ring (cincin) Saturnus.

Jika dilihat dari kejauhan, Saturnus menampilkan tujuh cincin khas. NASA menandakan mereka dengan tujuh huruf pertama pada alfabet. Pengurutan ini bukan berdasarkan jarak mereka dari planet, tetapi urutan di mana mereka ditemukan.

Setiap cincin mengandung materi yang mengorbit, yaitu bongkahan batu dan es. Gabungan dari cincin-cincin itu membentang pada ribuan mil ruang angkasa.

Menurut NASA Science, tiga cincin pertama yang ditemukan, yaitu A, B, dan C adalah yang paling mudah dikenali. Itu karena mereka merupakan cincin utama planet yang paling terang. Sementara cincin D sangat redup dan terletak paling dekat dengan planet ini.

Cincin E adalah yang terbesar dan terluar, membentang 621.370 mil atau sekitar satu juta kilometer. Dia juga terletak di sebelah cincin samar lainnya, yairu cincin F dan G.

Ilustrasi planet Saturnus dan cincinnya. Sumber: NASA
Ilustrasi planet Saturnus dan cincinnya. Sumber: NASA

Selama empat abad, para astronom modern meneliti cincin Saturnus. Hingga akhirnya, detail Saturnus ditemukan dalam sebuah misi ambisius yang pernah ada, yaitu misi Cassini yang membawa pesawat ruang angkasa Huygens 2005-2017. Selain ambisius, itu adalah misi yang paling menyedihkan.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

- angkasa berdenyut dalam kehendak -

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image